Jumat, 18 Oktober 2013

Makalah Sokrates II

Makalah Socrates
Posted on Oktober 18, 2013

 by :  Salahudien D'rawiezZt Arjussyafa'ah
BAB I

PENDAHULUAN

Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran yang umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya kita peroleh dari tulisan murid-muridnya, terutama Plato. Kehidupan Socrates (470-399 SM) berada di tengah-tengah keruntuhan imperium Athena. Tahun terakhir hidupnya sempat menyaksikan keruntuhan demokratis. Di sekitarnya dasar-dasar lama remuk, kekuasaan jahat mengganti keadilan disertai munculnya penguasa-penguasa politik yang menjadi orang-orang yang sombong dibandingkan dengan sebelumnya.

Pemuda-pemuda Athena pada masa ini dipimpin oleh doktrin relativisme dari kaum sofis, sedangkan Socrates adalah seorang penganut moral yang absolut dan menyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan.

BAB II

PEMBAHASAN
FILOSOFI KLASIK

Perubahan jalan pikiran dalam filosofi tidak terjadi sekoyong-konyong ini dibuktikan dengan timbulnya filosofis Yunani. Sofisme terlalu mengemukakan pendirian yang subjektif, relatif, dan skeptis. Oleh karena itu Sofisme tidak mungkin menjadi suatu sistem pengetahuan yang bulat. Sofisme tak lebih dari masa pendahuluan ke zaman klasik. Zaman klasik bermula dengan Socrates.
SOCRATES

Mengenai riwayat Socrates tidak banyak diketahui, akan tetapi sebagai sumber utama keterangan tentang darinya dapat diperoleh dari tulisan Aristophanes, Xenophon, Plato, dan Aristoteles. Karena ia sendiri tidak meninggalkan tulisan, sedangkan keterangan tentang dirinya didapat dari para muridnya. Yang paling banyak menulis tentang Socrates adalah Plato yang berupa dialog-dialog.

Ia anak seorang pemahat Sophroniscos, dan ibunya bernama Phairnarete, yang pekerjaannya seorang bidan. Istrinya bernama Xantipe yang dikenal sebagai seorang yang judes (galak dan keras). Ia dari keluarga yang kaya dengan mendapatkan pendidikan yang baik, kemudian menjadi prajurit Athena. Ia terkenal sebagai prajurit yang gagah berani. Karena ia tidak suka terhadap urusan politik, maka ia lebih senang memusatkan perhatiannya kepada filsafat, yang akhirnya ia dalam keadaan miskin.

Seperti halnya kaum Sofis, Socrates mengarahkan perhatiannya kepadamanusiasebagai objek pemikiran filsafatnya. Berbeda dengan kaum Sofis, yang setiap mengajarkan pengetahuannya selalu memungut bayaran, tetapi Socrates tidak memungut bayaran kepada murid-muridnya. Sehingga ia kemudian oleh kaum Sofis sendiri dituduh memberikan ajaran barunya, merusak moral para pemuda, dan menentang kepercayaan negara. Kemudian ia ditangkap dan akhirnya dihukum mati dengan minum racun pada umur 70 tahun yaitu pada tahun 399 SM. Pembelaan Socrates atas tuduhan tersebut telah ditulis oleh Plato dalam karangannya ‘Apologia’.

Sejak muda Socrates telah terlibat sifat kebijaksanaannya, karena selain ia cerdas juga pada setiap perilakunya dituntun oleh suara batin (daimon) yang selalu membisikkan dan menuntun ke arah keutamaan moral. Cara memberikan pelajaran kepada para muridnya dengan dialog (tanya jawab), yang bertujuan untuk mengupas kebenaran semu yang selalu menyelimuti muridnya. Kebenaran semu tersebut muncul karena ketidaktahuan para muridnya tentang hal-hal tertentu. Dengan cara dialog pengetahuan semu akan terdobrak sehingga mampu keluar dan melahirkan pengetahuan yang sejati.

Peran Socrates dalam mendobrak pengetahuan semu itu meniru pekerjaan ibunya sebagi seorang bidan dalam upaya menolong kelahiran bayi, akan tetapi ia berperan sebagai bidan pengetahuan. Teknik dalam upaya menolong kelahiran (bayi) pengetahuan itu disebut majeutike (kebidanan) yaitu dengan cara mengamat-amati hal-hal yang konkret dan yang beragam coraknya tetapi pada jenis yang sama. Kemudian unsur-unsur yang berbeda dihilangkan sehingga tinggalah unsur yang sama dan bersifat umum, itulah pengetahuan sejati.

Pengetahuan sejati atau pengertian sejati sangat penting dalam mencapai keutamaan moral. Barangsiapa yang mempunyai pengertian sejati berarti memiliki kebajikan (arete) atau keutamaan moral berarti pula memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia.[1]

Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah, di mana keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.
METODE SOCRATES

Socrates tidak pernah menulis. Ia tidak pernah mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia, filosofi bukan misi, bukan hasil, bukan ajaran yang bersandarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran, ia bukan ahli pengetahuan melainkan pemikir.

Ajarannya itu hanya di kenal dari catatan murid-muridnya, terutama Xenephon dan Plato. Untuk mengetahui ajaran Socrates, orang banyak bersandar kepada Plato. Tetapi kesulitannya adalah dalam tulisannya, Plato banyak menuangkan pendapatnya sendiri kedalam ajaran Socrates.

Tujuan Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Socrates berpendapat, bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari. Dalam mencari kebenaran itu ia tidak berpikir sendiri melainkan tanya jawab. Kebenaran harus lahir dari jiwa. Metodenya disebut maieutik, menguraikan, seolah-olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai bidan.

Socrates mencari pengertian, yaitu bentuk yang tetap. Sebab itu ia selalu bertanya : apa itu ? apa yang dikatakan berani, apa yang disebut indah, apa yang bernama adil ?. Tanya jawab, yang dilakukan secara meningkat dan mendalam, melahirkan pikiran yang kritis.

Oleh karena itu Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya jawab, maka jalan yang ditempuhnya ialah metode induksidan definisi. Kedua-duanya yaitu bersangkutan. Induksi menjadi dasar definisi.

Induksi yang menjadi metode Socrates ialah memperbandingkan secara kritis. Dengan melalui induksi sampai kepada definisi.Definisi yaitu pembentukan pengertian yang umum. Induksi dan definisi menuju pengetahuan yang berdasarkan pengertian.
ETIKA SOCRATES

Budi ialah tahu, kata Socrates. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Siapa yang mengetahui hukum pasti bertindak dengan pengetahuannya. Oleh karena budi berdasar atas pengetahuan maka budi itu dapat dipelajari. Dari gambaran tersebut terlihat bahwa ajaran etik Socrates bersifat intelektual dan juga rasional. Apabila budi adalah tahu maka tak ada orang yang sengaja berbuat jahat.Kedua-duanya, budi dan tahu bersangkut-paut. “Jahat” hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar.

Oleh karna budi adalah tahu, maka siapa yang mengetahui kebaikan pastilah dia berbuat baik. Menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup. Apa itu ‘kesenangan hidup’ ? hal ini tidak pernah dipersoalkan oleh Socrates sehingga murid-muridnya kemudian memberikan pendapatnya sendiri-sendiri yang bertentangan satu sama lain.

Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya. Dari pandangan etik yang rasional itu Socrates sampai pada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya didzalimi lebih baik dari pada mendzalimi. Socrates adalah orang yang mempercayai tuhan.
MURID-MURID SOCRATES

Diantara murid-murid Socrates ada tiga orang yang mengaku meneruskan pelajarannya, yaitu Euklides, Antisthenes dan Aristippos.

EUKLIDES mengajarkan filosofinya di kota Megara. Sebelum ia belajar pada Socrates, ia telah mempelajari filosofi Elea, terutama ajaran Permenindes yang mengatakan bahwa yang ada itu ada, satu, tidak berubah-ubah. Pendapat ini disatukan dengan etika Socrates. Lalu diajarkannya: Yang satu itu baik. Hanya orang sering menyebut yang satu itu dengan berbagai anggapan: Tuhan, akal, dan lainnya. Lawan satu itu tiada.Yang baik selalu ada, tidak berubah.

ANTISTHENES mula-mula murid guru sofis Gorgias. Kemudian ia menjadi pengikut Socrates. Setelah Socrates meninggal, ia membuka sekolah filosofi di Atena dan diberi nama Gymnasium Kynosarges. Menurut ajaran Antisthenes, budi adalah satu-satunya yang baik. Budi adalah segala rasa cukup. Di luar itu tidak perlu mencari kesenangan hidup.

Dalam dua halia menyimpang dari Socrates. Pertama, ia memungut biaya sekolah. Bagi Socrates, ia pantang menerima bayaran. Kedua, tentang pengertian. Bagi Antisthenes, pengertian itu tidak ada. Yang adahanya kata-kata, masing-masing mempunyai arti sendiri. Kata yang satu tak dapat menentukan kata yang lain.

ARISTIPPOS magajarkan filosofinya di Kyrena.Mula-mula ia belajar pada guru sofis dan kemudian menjadi murid Socrates. Dalam ajarannya ia jauh menyimpang dari Socrates. Menurut pendapatnya, kesenangan hidup harus menjadi tujuan. Sebab itulah, ajarannya disebut hedonisme. Hanya kesenangan hidup harus dicapai dengan pertimbangan yang tepat, tidak serampangan.

Euklides, Antisthenes dan Aristippos, masing-masing mendirikan sekolah Socrates sebagai tanda cinta kepada gurunya. Namun mereka bukanlah murid Socrates yang sepenuhnya.Murid Socrates yang sesungguhnya adalah Plato.

Dibandingkan dengan gurunya, Socrates, Plato telah maju selangkah dalam pemikirannya. Socrates baru sampai pada pemikiran tentang sesuatu yang umum dan merupakan hakikat suatu realitas, tetapi Plato telah mengembangkannya dengan pemikiran bahwa hakikat suatu realitas itu bukan “yang umum”, tetapi yang mempunyai kenyataan yang terpisah dari sesuatu yang berada secara kongkret, yaitu ide. Dunia ide inilah yang hanya dapat dipikirkandan diketahui oleh akal.

BAB III

KESIMPULAN

Ajaran Socrates merupakan tulisan yang ditulis oleh Plato. Perjuangannya telah menumbuhkan seorang filosof-filosof yang mampu berpikir kritis dan melanjutkan perjalanan Socrates.

Dan karna fikiran kritis itulah, tumbuh pemikiran yang benar dan rasional.Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah, di mana keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.

PENUTUP

Demikian makalah dari kami yang dapat kami uraikan, kurang lebihnya kami mohon maaf. Bila ada kritik dan saran mari kita diskusikan bersama.

Referensi :

1) Prof. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung:Rosdakarya,2009)

2) Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, (Jakarta:Rajawali Press)

3) Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, UIP

[1] HarunHadiwijono, Sari SejarahFilsafat Barat I, Kanisus, Yogyakarta, hlm.

Fotenoot : http://hwraocha.wordpress.com/2013/01/01/makalah-socrates/

Makalah Sokates





by : Salahudien D'rawiezZt Arjussyafa'ah
Sokrates
A. Biografi
Socrates dilahirkan pada tahun 469 SM ia merupakan filsuf pertama yang terlahir di Athena, yunani. Dia adalah anak dari pasangan suami istri, Sophroniscus dan Phaenarete. Ayahnya berprofesi sebagai pemahat dan ibunya berprofesi sebagai bidan. Pada permulaanya sokrates menggeluti jejak bapaknya menjadi seorang pembuat patung. Tetapi akhirnya ia berganti haluan dari membentuk batu jadi patung menjadi membentuk watak manusia.[1]
Orang grik pada umumnya bagus, badanya ramping dan tegap, raut mukanya elok. Tetapi sokrates kebalikan dari itu, potongan badanya pendek, sedikit gemuk, mulutnya lebar hidungnya botok dan matanya terbudur, tapi dibalik itu Socrates mempunyai kepribadian yang sabar, rendah hati, yang selalu menyatakan dirinya bodoh.[2]
Sokrates hidup bersamaan dengan zamanya kaum sofis, Karena itu pokok pembahasan filsafat Socrates hampir sama dengan pokok pembahasan kaum sofis sehingga , sehingga di dalam komedi “awan” Aristophanes menyebut Sokrates sebagai seorang sofis. Tetapi itu tidak benar Karna sebenarnya terdapat perbedaan yang sangat besar antara Sokrates dengan kaum sofis, Filsafat Sokrates adalah suatu reaksi dan kritik terhadap pemikiran kaum sofis. Di dalam kesusastraan yunani kata “sofis” mempunyai dua arti. Kata ini dapat berarti “ahli”, dan dalam sering dipakai oleh Plato, untuk menunujukan sesuatu yang sangat baik. Tatapi disamping itu tersebar pula pemakaian kata ini dalam arti yang khusus yaitu seorang “ guru bayaran” , dan dalam makna ini kata tersebut terdengar tidak baik. Berlawanan dengan para pemikir yang lebih tua, kaum sofis meminta upah bagi pelajaran yang mereka berikan, dan di mata orang-orang yunani yang demikian ini dinilai rendah. Di samping itu pelajaran yang mereka berikan harus membawa hasil. Sehingga sofistika beralih menjadi retorika yang tidak mengutamakan masalah kebenaran, melainkan mementingkan masalah cara mempengaruhi orang lain.[3]
Socrates percaya akan gagasan mengenai gaya tunggal dan transenden yang ada di balik pergerakan alam ini. Dengan demikian, Socrates memiliki pandangan yang bertentangan dengan kepercayaan umum masyarakat Yunani saat itu, yaitu kepercayaan pada kuil (oracle) dari dewa-dewa.
Dan akhirnya pada tahun 399 SM Socrates dinyatakan bersalah atas tuduhan tidak percaya dengan dewa-dewa dan telah merusak moral para pemuda yunani, oleh pengadilan ia ditawarkan untuk bunuh diri dengan meminum racun. Penawaran tersebut diterimanya dengan tenang, meskipun para muridnya telah berulangkali membujuknya untuk melarikan diri. Menurut Phaedo, Socrates meninggal dengan tenang dengan dikelilingi oleh kawan-kawan dan siswanya. Pada saat itu sokrates berusia 70 tahun.
B. Jalan pemikiran Sokrates
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori – teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagaian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya.
Bartens menjelaskan ajaran Socrates sebagai berikut ini. Ajaran itu dutujukan untuk menentang ajaran relativisme sofis. Ia ingin menegakkan sains dan agama. Kalau dipandang sepintas lalu, Socrates tidaklah banyak berbeda dengan orang – orang sofis. Sama dengan orang sofis, Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari pengalaman sehari – hari. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat penting antara orang sofis dan Socrates. Socrates tidak menyetujui kaum sofis.[4]
Menurut pendapat Socrates ada kebenaran obyektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh Socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran obyektif, Socrates menggunakan metode tertentu.


C. Metode sokrates
Sokrates tidak pernah menuliskan filosofisnya. Jika dititik benar-benar, ia malahan tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilsafat. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia memberi kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir[5]
Tujuan filsafat sokrates adalah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Tentu berlainan pendapatnya dengan para kaum sofis yang mengajarkan bahwa semua relatif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Dalam mencari kebenaran sokrates tidak memikir sendiri, melainkan setiap berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab. Kebenaran harus lahir dari lawan bicaranya itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa seseorang oleh sebab itu metodenya disebut dengan metode dialektika.[6]
Ia mengajukan pertanyaan kepada orang-orang dari berbagai kalangan, seperti ahli politik, pejabat pemerintah, pedagang, tukang dan lain-lain. Jawaban mereka yang pertama atas pertanyaan yang diajukan, oleh sokrates dianggap sebagai hipotesis. Kemudian ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji dan menganalisis hipotesis pertama. Kemudian mengajukan pertanyaan lebih lanjut untuk menarik segala konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban pertama tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karna membawa konsekuensi-konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis diganti itu diganti dengan hipotesis yang lain. Hipotesis yang kedua ini lalu diuji dan dianalisis dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, demikian seterusnya.[7]
Bagi kita yang sudah biasa membentuk dan menggunakan definisi barang kali merasakan definisi itu bukan sesuatu yang amat penting, jadi bukan suatu penenmuan yang berharga. Akan tetapi, bagi Socrates pada waktu itu penemuan definisi bukanlah hal yang kecil maknanya, penemuan inilah yang akan dihantamkannya kepada relatifisme kaum sofis.
Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang sofis bahwa pengatahuan yang umum ada, yaitu definisi itu. Jadi, orang sofis tidak seluruhnya benar, yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus, yang khusus itulah pengetahuan yang kebenaranya relatif. Misalnya contoh ini :
Apakah kursi itu ? kita periksa seluruh, kalau bisa seluruh kursi yang ada didunia ini. Kita menemukan kursi hakim ada tempat duduk dan sandaran, kakinya empat, dari bahan jati. Lihat kursi malas, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya dua, dari besi anti karat begitulah seterusnya. Jadi kita ambil kesimpulan bahwa setiap kursi itu selalu ada tempat duduk dan sandaran. Kedua ciri ini terdapat pada semua kursi. Sedangkan cirri yang lain tidak dimilki semua kursi. Maka, semua orang akan sepakat bahwa kursi adalah tempat duduk yang bersandaran. Berarti ini merupakan kebenaran obyektif – umum, tidak subyektif – relative. Tentang jumlah kaki, bahan, dsb. Merupakan kebenaran yang relatif. Jadi, memang ada pengetahuan yang umum, itulah definisi.[8]
D. Etik Sokrates
Budi adalah tahu, kata sokrates. Inilah inti sari daripada etiknya. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik, paham etiknya itu berlanjut daripada metode-metodenya, induksi dan definisi menuju kepada pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Oleh karena budi berdasarkan atas pengetahuan, maka budi itu dapat dipelajari.[9]
Dari ucapan itu nyatalah, bahwa ajaran etik Sokrates intelektuil sifatnya. Selain dari itu juga rasionil. Apabila budi adalah tahu, maka tak ada orang yang sengaja berbuat jahat atas maunya sendiri. Kedua-duanya, budi dan tahu bersangkut-paut. Apabila budi tahu, berdasarkan timbangan yang benar, maka “jahat” hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau pengelihatan yang benar, orang yang kesasar adalah korban daripada kekhilafannya sendiri. Kesasar bukanlah perbuatan yang di sengaja. Tidak ada orang yang khilaf atas maunya sendiri.
Menurut sokrates, semua manusia itu pada dasarnya baik. Seperti dengan segala barang yang ada itu ada tujuanya, begitu juga hidup manusia. Misalnya apa tujuan meja? Kekuatanya, kebaikanya. Begitu juga dengan manusia. Keadaan dan tujuanya manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya[10]
Dari pandangan etik yang rasionil itu sokrates sampai kepada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Sokrates adalah orang yang percaya kepada Tuhan, sering juga dikemukakannya bahwa tuhan itu dirasai sebagai suara dari dalam yang menjadi bimbingan baginya dalam segala perbuatanya itulah yang disebutnya daimonion.
E. Murid-murid sokrates
Diantara murid-murid Sokrates ada tiga yang mengaku meneruskan pelajaranya yaitu, Euklides, Antisthenes dan Aristhoppos.
1. Euklides
Ia mengajarkan filosofinya di kota megara. Sebelum ia belajar filsafat kepada Sokrates ia telah mempelajari filosofi Elea, Terutama ajaran Permenides yang mengatakan, bahwa yang ada itu ada, satu, tidak berubah-ubah.
2. Antisthenes
Tampaknya dalam usia lanjut Antisthenes menjadi murid Sokrates. Setelah Sokrates meninggal, Antisthenes mengajar di gymnasium kunosarges di Athena.
3. Aristhoppos
Aristhoppos mengajarkan filosofinya di kyrena, mula-mula ia belajar filosofi pada guru sofis dan kumudian menjadi murid Sokrates. Namun dalam ajaranya ia sangat menyimpang dengan Sokrates.
Sungguh Euklides, Antisthenes dan Aristippos masing-masing mendirikan sekolah Sokrates sebagai tanda cintanya kepada gurunya. Namun mereka bukanlah pengikut Sokrates yang sepenuh-penuhnya. Murid Sokrates yang sesungguhnya ialah Plato.[11]

Refrensi :
[1] Soemargono soejono, Sejarah ringkas filsafat barat Tiara wacana Yogyakarta 1992. hal.14
[2] Hatta mohammad, alam pikiran yunani Tintamas Jakarta 1986. hal.73
[3] Soemargono soejono, op.cit., hal. 1
[4] Fufu, makalah filsafat sokrates dkk, 22-06-2011. Hal.2
[5] Hatta mohammad, alam pikiran yunani Tintamas Jakarta 1986. hal.80
[6] Ibid. Hal.80
[7] Brouwer, Heryadi, sejarah filsafat barat modern dan sezaman Alumni Bandung 1986. hal.23
[8] Fufu, makalah filsafat sokrates dkk, 22-06-2011. Hal.3

[9] Hatta mohammad, alam pikiran yunani Tintamas Jakarta 1986. hal.83
[10] Ibid. Hal.83
[11] Hatta mohammad, alam pikiran yunani Tintamas Jakarta 1986. hal.84

Sabtu, 05 Oktober 2013

CUSTOM ROM S280


ROM : TEAMBURST REVOLUTION 2

Oleh 
Salahudien D'rawiezZt Arjussyafa'ah · Sunting Dokumen
 Feature :
- Odexed Rom (Faster & Smoother) 
- Transparant : mms, contacts, phone
- HD Graphich (Sharp & Smooth)
- LG Keyboard
- Touchscreen Optimizer
- RAM Management For Gaming
- SGS Bootanimation
- Fixed : GPS Locked
- Fixed : Camera 3.2mp 

Changelog : 
- [HOT!] Theft Aware (Anti maling + Penyadap HP Terbaik)
- Remote Power Off (Matikan Hp Jarak jauh via SMS)
- [HOT!] OG Battery with 31 battery icon (Ganti icon batre dgn 1x klik)
- [HOT!] Multi Locker with 11 Style Locker
- GAPPS SLIM (Less Ram Consumtif + Disable Lisence Verification)
- MIN FREE PARAMETER : STABLE & HARD GAMING
- Included Font : Sony Xperia & Samsung SGS
- Launcher choice : Xperia & Nova Launcher
- Included Swap On Data 255 MB
- Andreno Booster
- New : 3G Tweak v2
- Included : Seeder, CPU Control, Adv.Task Manager, Greenify
- Init.d Support
- Busybox Support
- Misc Bug Fixed
- With Aroma Installer


READ ME ( WAJIB DIBACA..!!)
Saat intall ROM ada beberapa pilihan di menu Aroma Installer, dari Launcher, Font, sWAP DATA & MIN FREE OPTION. biar ga salah install kita simak tips berikut ini agar kinerja HH semakin Maksimal

  •  Khusus untuk user A28 Yg HHNya Cacat Pabrik (Touchscreen sering error ga berfungsi) pilih MIN FREE : STABLE (RECOMENDED)   
  • Khusus buat yg suka maen Game Berat bisa memakai SWAP ON DATA 255 MB + MIN FREE HARD GAMING... setelah install ROM Reboot HH Minimal 2x biar tweak init.d nya aktif Kemudian buka app DISK INFO lihat baris paling bawah utk mengecek SWAP Kemudian Aktifkan Greenify Hibernate app bandel yg suka jalan di Backgroud..
  • Buka App Seeder > centang semuanya pilih MODERATE klik ON..(app ini sangat membantu terutama utk user yg memakai microSD Class 4 kebawah karena app ini bisa meningkatkan READ & WRITE MEMORY sampai 3x lipat jadi bisa mengurangi Lag saat main Game
  • Buka app No Frilis CPU Control > yg pengen batrenya irit pilih ONDEMAND & CFQ kemudian centang apply on boot
  •  Buka App REMOTE POWER OFF Kemudian setting seperti ini :
  - current password : null
  - New Paaword : power
  CARA MEMAKAI : ketik sms : "power#off" tanpa tanda petik kemudian kirim ke Nomor HH yg kamu pakai..
  • Biar tampilan Kuncinya keren buka App MULTI LOCKER > Pilih gaya yg kamu suka > OK,,,kemudian buka SETTING > SECURITY > SCREEN LOCK > NONE
  • Bosan dgn icon batre di status bar, tgl pilih icon yg kamu suka, buka SETTING > DISPLAY > OG BATTERY MOD, ceklist battery style yg kamu sukai
  • KHUSUS UNTUK ADVANCED USER YG SUKA MULTITASKING, SOCIAL MEDIA & SUKA INSTALL BANYAK APLIKASI Recomended saat install ROM non-aktifkan SWAP DATA 255 MB dan gunakan SWAP EMMC agar lebih smooth dan internal DATA lebih lega dgn resiko mengorbankan INTERNAL SD 1GB sbg SWAP,, Silahkan AKTIFKAN SWAP EMMC dgn metode berikut ini:
- via LINUX By Dhemas Eka Rilian & Arya Rahmanda >> https://www.facebook.com/groups/crossa28/doc/506488342768100/ (RECOMENDED), atau

- via Script Swap 1GB by Ibnu Ziad Arrizky >> https://www.facebook.com/groups/crossa28/doc/504246299658971/



CARA INSTALASI :

- Masuk CWM RECOVERY
- Factory Reset > Yes
- Mount USB & Storage > Format System > Yes
- Install Zip from SDCard > TB_REVOLUTION_2.zip > yes
- Rebot minimal 2x (Jangan lupa 2x agar tweak init.d bekerja)



UPDATE#1 (Flash via CWM) 
The Best App+Data
- Power Amp Full version
- Startup Manager Pro
- Uninstall Master
- Solid Explorer Full Version
- etc..
Note : setelah install UPDATE#1 buka aplikasi LINK2SD, pilih PowerAmp > Clear Data.. kemudian Reboot HH

UPDATE#2 (Koleksi Skin Sms)
- Adventure
- Deat Note
- Erenandevil
- FairTail
- Hellokitty
- I-Phone
- Iron man
- JB
- JB Transparant
- Mario Bross
- Minio Rush
- Monster inc
- Naruto
- One Piece
- Pokemon
- Kiss Please
- Stock ROM
- Foto Bubble by Khamdi Khamid


Cara instalasi Skin : download > extract filenya > pilih skin sms yg mau dipake > install via CWM

UPDATE#2 (GAPPS FULL)
Buat yg pengen Syncronisasi Contact, kalender event dgn Gmail silahkan install update ini...

PRINSIP – PRINSIP YANG TERKANDUNG DALAM BATANG TUBUH UNDANG – UNDANG DASAR 1945




Sebagai dasar , Pancasila kembali diuji ketahanannya dalam era reformasi sekarang. Merekahnya matahari bulan Juni 1945, 66 tahun yang lalu disambut dengan lahirnya sebuah konsepsi kenengaraan yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia, yaitu lahirnya Pancasila.

Sebagai prinsip – prinsip negara, tentu Pancasila ada yang merumuskannya. Pancasila memang merupakan karunia terbesar dari Allah SWT dan ternyata merupakan light-star bagi segenap bangsa Indonesia di masa-masa selanjutnya, baik sebagai pedoman dalam memperjuangkan kemerdekaan, juga sebagai alat pemersatu dalam hidup kerukunan berbangsa, serta sebagai pandangan hidup untuk kehidupan manusia Indonesia sehari-hari, dan yang jelas tadi telah diungkapkan sebagai Prinsip – Prinsip yang terkandung dalam batang tubuh Undang – Undang Dasar 1945” . Pancasila telah ada dalam segala bentuk kehidupan rakyat Indonesia, terkecuali bagi mereka yang tidak Pancasilais. Pancasila lahir 1 Juni 1945, ditetapkan pada 18 Agustus 1945 bersama-sama dengan UUD 1945. Bunyi dan ucapan Pancasila yang benar berdasarkan Inpres Nomor 12 tahun 1968 adalah satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dan kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa di antara tokoh perumus Pancasila itu ialah, Mr Mohammad Yamin, Prof Mr Soepomo, dan Ir Soekarno. Dapat dikemukakan mengapa Pancasila itu sakti dan selalu dapat bertahan dari guncangan kisruh politik di negara ini, yaitu pertama ialah karena secara intrinsik dalam Pancasila itu mengandung toleransi, dan siapa yang menantang Pancasila berarti dia menentang toleransi.

Kedua, Pancasila merupakan wadah yang cukup fleksibel, yang dapat mencakup faham-faham positif yang dianut oleh bangsa Indonesia, dan faham lain yang positif tersebut mempunyai keleluasaan yang cukup untuk memperkembangkan diri. Yang ketiga, karena sila-sila dari Pancasila itu terdiri dari nilai-nilai dan norma-norma yang positif sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia, dan nilai serta norma yang bertentangan, pasti akan ditolak oleh Pancasila, misalnya Atheisme dan segala bentuk kekafiran tak beragama akan ditolak oleh bangsa Indonesia yang bertuhan dan ber-agama.

Diktatorisme juga ditolak, karena bangsa Indonesia berprikemanusiaan dan berusaha untuk berbudi luhur. Kelonialisme juga ditolak oleh bangsa Indonesia yang cinta akan kemerdekaan. Sebab yang keempat adalah, karena bangsa Indonesia yang sejati sangat cinta kepada Pancasila, yakin bahwa Pancasila itu benar dan tidak bertentangan dengan keyakinan serta agamanya.

Dengan demikian bahwa Prinsip – Prinsip yang terkandung dalam batang tubuh Undang – Undang Dasar 1945” yang harus diketahui oleh seluruh warga negara Indonesia agar menghormati, menghargai, menjaga dan menjalankan apa-apa yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya pahlawan proklamasi yang telah berjuang untuk kemerdekaan negara Indonesia ini. Sehingga baik golongan muda maupun tua tetap meyakini Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tanpa adanya keraguan guna memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini penulis memperoleh hasil yang diinginkan, maka penulis mengemukakan bebe-rapa rumusan masalah. Rumusan masalah itu adalah:

1. Apakah landasan filosofis Pancasila?
Apakah fungsi utama prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45.

bagi bangsa dan negara Indonesia?
Apakah bukti bahwa prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45.

dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia?


1.3 Tujuan

Tujuan dari penyusunan makalah ini antara lain:

1. Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Pancasila.

2. Untuk menambah pengetahuan tentang prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45.

3. Untuk mengetahui landasan filosofis Pancasila.

4. Untuk mengetahui fungsi utama prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45, bagi bangsa dan negara Indonesia.

5. Untuk mengetahui bukti bahwa prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45, dapat dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia.

1.4 Manfaat

Manfaat yang didapat dari makalah ini adalah:

1. Mahasiswa dapat menambah pengetahuan tentang Pancasila dari aspek prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45.

2. Mahasiswa dapat mengetahui landasan prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45.

3. Mahasiswa dapat mengetahui fungsi utama prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45.

4. Mahasiswa dapat mengetahui bukti bahwa prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45, dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia.

1.5 Ruang Lingkup

Makalah ini membahas mengenai landasan prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45, dan fungsi utama prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45, bagi bangsa dan negara Indonesia. Serta membahas mengenai bukti bahwa prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45, dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia. Berdasarkan beberapa masalah yang teridentifikasi tersebut, makalah ini difokuskan pada prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45.


METODE PENULISAN

2.1 Objek Penulisan

Objek penulisan makalah ini adalah mengenai prinsip – prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45, sebagai dasar falsafah negara Indonesia. Dalam makalah ini dibahas mengenai landasan, prinsip – prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45, fungsi utama prinsip – prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45 bagi bangsa dan negara Indonesia, dan bagaimana prinsip – prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45 dijadikan sebagai dasar falsafah negara Indonesia.

2.2 Dasar Pemilihan Objek

Makalah ini membahas mengenai prinsip – prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD’45 . Prinsip –prinsip yang terkandung dalam batang tubuh UUD ’45 adalah suatu kebatinan dari Undang – Undang Dasar Negara Indonesia serta mewujudkan cita – cita hukum,y ang mengusai hukum dasar tertulis ( UUD) dan huum dasar tidak tertulis (Convensi), selanjudnya pokok pikiran itu di jelma dalam pasal – pasal UUD 1945. Maka dapatlah di simpulkan bahwa suasana kebatinan Undang –Undang Dasar 1945 tidak lain di jiwai atau bersumber pada dasar filsafat negara Indonesia yang terdapat dalam beberapa dokumen historis dan di dalam perundang-undangan negara Indonesia.

2.3 Metode Pengumpulan Data

Dalam pembuatan makalah ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah kaji pustaka terhadap bahan-bahan kepustakaan yang sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam makalah ini yaitu dengan tema Prinsip – prinsip yang terkandun dalam batang tubuh UUD ‘45 . Sebagai referensi juga diperoleh dari situs web internet yang membahas mengenai Prinsip – prinsip yang terkandung dalam batang tubuh Undang – Undang Dasar ’45.

2.4 Metode Analisis

Penyusunan makalah ini berdasarkan metode deskriptif analistis, yaitu mengidentifikasi permasalahan berdasarkan info – info yang terdapat pada buku panduan tentang Pancasila, menganalisis permasalahan berdasarkan pustaka dan data pendukung lainnya, serta mencari alternatif pemecahan masalah.


ANALISIS PERMASALAHAN

3.1 Landasan Prinsip - Prinsip yang Terkandung Dalam Batang Tubuh Undang – Undan Dasar 1945.

3.1.1 Pengertian Hubungan antara Pancasila dengan UUD’45.

Dalam sistem tertip hukum Indonesia, penjelasan UUD 1945 menyatakan bahwa Pokok Pikiran itu meliputi suasana kebatinan dari Undang –Undang Dasar Negara Indonesia serta mewujudkan cita – cita hukum, yang menguasai hukum – hukum dasar tertulis (UUD) dan hukum dasar tidak tertulis ( convensi), selanjudnya Pokok Pikiran itu di jelmakan dalam pasal – pasal UUD 1945. Maka dapatlah disimpulkan bahwa suasana kebatinaan Undang – Undang Dasar 1945 tidak lain di jiwai atau bersumber pada dasar Filsafat Negara Pancasila. Pengertian tersebut yang menunjukkan kedudukan dan fungsi Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat di simpulkan bahwa pembukaan UUD 1945, mempunyai fungsi hubungan langung yang bersifat kausal organis dengan batang tubuh UUD 1945, karena isi dalam pembukaan di jabarkan ke dalam pasal – pasal UUD 1945. Maka pembukaan UUD 1945 yang memuat dasar filsafat negara, dan Undang – Undang Dasar merupakan satu kesatuan, walaupun dapat di pisahkan , bahkan merupaan suatu rangkaian kesatuan nilai dan norma yang terpadu. Pembukaan Undang – Undang Dasar 1945 yang di dalamnya terkandung pokok – pokok pikiran persatuan Indonesia. Keadilan sosial, kedaulatan rakyat berdasarkan atas permusyawaratan / perwkilan , serta ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang Adil dan Beradap, yang inti sarinya merupakan penjelmaan dari dasar filsafat pancasila. adapun Pancasila itu sendiri memancarkan nilai – nilai luhur yang telah mampu memberikan semangat kepada UUD 1945.



Pembukaan UUD 1945 bersamaan dengan Undang – Undang Dasar 1945 di undangkan dalam berita Republik Indonesia tahun II No.7, di tetapkan oleh PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Inti dari pembukaan UUD 1945, pada hakikatnya terdapat pada alinea IV. Sebab segala aspek penyelenggaraan pemerintahan negara yang berdasarkan Pancasila terdapat pada pembukaan alinea IV.

Oleh karena itu justru dalam pembukaan Itulah secara formal yuridis Pancasiala di tetapkan sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia. Maka hubungan antara pembukaan UUD 1945 adalah bersifat timbal balik secara berikut:

Hubungan Secara Formal

Dengan di cantumkannya Pancasila secara Formal di dalam pembukaan UUD 1945, maka Pancasila memperoleh kedudukan sebagai norma dasar hukum positif. Dengan demikian tata kehidupan bernegara tidak hanya bertompang atas asas – asas sosial, ekonomi , politik akan tetapi dalam perpaduanya dengan keseluruhan asas yang akan melekat padanya . yaitu Perpaduan asas – asas kultural , religius dan asas – asas kenegaraan yang unsurnya terdapat dalam Pancasila.

Jadi berdasarkan tempat terdapatnyan pancasila secara formal dapat di simpulkan sebagai berikut :

1) Bahwa rumusan Pancasila sebagai dasar Negara Republik indonesia adalah seperti yang tercantum dalm pembukaan UUD 1945 alinea IV.

2) Bahwa pembukaan UUD 1945 berdasarkan pengertian ilmiah, merupakan Pokok Kaidah Negara yang Fudamental dan terhadap tertib hukum Indonesia mempunyai dua macam kedudukan yaitu :

a. Sebagai dasarnya , karena pembukaan UUD 1945 itulah yang memberikan faktor – faktor mutlak bagi adanya tertib hukum Indonesia.

b. Memasukkan dirinya di dalam hukum tersebut sebagai tertib hukum tertinggi

3) Bahwa dengan demikian pembukaan UUD 1945 berkedudukan dan berfungsi , selain sebagai makadimah dari UUD 1945 dalam kesatuan yang tidak dapat di pisahkan, juga berkedudukan sebagai suatu yang berreksistensis sendiri , yang hakikat kedudukan hukumnya yang berbeda dengan pasal – pasalnya. Karena pembukaan UUD 1945 yaitu intinya adalah Pancasila adalah tidak tergantung pada Batang Tubuh UUD 1945 , bahkan sebagai sumbernya.

4) Bahwa Pancasila dengan demikian dapat disimpulkan mempunyai hakikat, sifat kedudukan dan fungsi sebagai Pokok Kaidah Negara yang Fudamental, yang menjelmakan dirinya sebagai dasar kelangsungan hidup negara Republik Indonesia yang di plokamirkan tanggal 17 Agustus 1945.

5) Bahwa Pancasila sebagai inti pembukaan UUD 1945, dengan demikian mempuyai kedudukan yang kuat , tetap dan tidak dapat diubah dan terletak pada kelangsungan hidup Negara Republik Indonesia.

Hubungan Secara Material.

Hubungan pembukaan UUD 1945 dengan Pancasila selain hubungan hubungan yang bersifat formal , sebagai mana yang telah di jelaskan di atas juga hubungan secara material sebagai berikut.

Bilamana kita tinjau kembali proses perumusan Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 , maka secara kronologis, materi yang di bahas oleh BPUPKI yang pertama – tama adalah dasar filsafat Pancasila baru kemudian Pembukaan UUD 1945. Setelah pad siang pertama pembukaan UUD 1945 BPUPKI membicarakan tentang dasar filsafat negara Pancasila berikunya tersusunlah Piagam Jakarta yang di susun oleh panitia 9, sebagai wujud bentuk pertama Pembukaan UUD 1945.

3.1.2 Hubungan

Dari berbagai macam sifat dari batang tubuh UUD 1945 sendiri menempatkan Pembukaan UUD 1945 alinea IV pada kedudukan yang amat penting . bahkan boleh di katakan bahwa sebenarnya hanya alinea IV Pembukaan UUD 1945 inilah yang menjadi inti sari Pembukaan dalam arti yang sebenarnya. Hal ini sebagaimana termuat dalm penjelasan resmi Pembukaan dalam aberita Republik Indonesia Tahun II, No 7 yang hampir keseluruhan mengenai bagian keempat Pembukaan UUD 1945. ( Pidato Prof.Mr.Dr Soepomo tanggal 15 Juni 1945 di depan rapat Badan Penyelidik Usaha – Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia)



PENUTUP

3.1.3 Kesimpulan

Setelah memperhatikan isi dalam pembahasan di atas, maka dapat penulis tarik kesimpulan sebagai berikut:

Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia yang penting bagi kesejahteraan kehidupan bangsa.Serta untuk melestarikan Bhineka Tunggal Ika,Sifat Pancasila tidak berubah – ubah dan menjadi landasan berlangsung nya kehidupan Bangsa dan Negara,bersifat Universal,Mengandung Cita-cita,Tujuan,Nilai-nilai yang baik dan benar.Penting bagi penerus Bangsa untuk mempelajari dan memahami serta menerapkan Pancasila dalam kehidupan yang Real.Fomat penerapan Pancasila masih blum bisa menghasilkan generasi bangsa yang tepat dan berkarakter pancasila ,maka nilai-nilai Pancasila yang sudah tidak terasa di Bangsa Indonesia ini harus kembali di bangkitkan untuk kelangsungan dan kesejahteraan masyarakat.



3.1.4 Saran

Warganegara Indonesia merupakan sekumpulan orang yang hidup dan tinggal di negara Indonesia Oleh karena itu sebaiknya warga negara Indonesia harus lebih meyakini atau mempercayai, menghormati, menghargai menjaga, memahami dan melaksanakan segala hal yang telah dilakukan oleh para pahlawan khususnya dalam pemahaman bahwa UUD 1945 dan Pancasila adalah sebagai dasar pedoman negara Indonesia. Sehingga kekacauan yang sekarang terjadi ini dapat diatasi dan lebih memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia ini.



DAFTAR PUSTAKA

Kaelan, 1983, Proses perumusan Pancasila dan UUD 1945, Liberty, Yogyakarta.

Pandoyo Toto S, 1981, Ulasan Terhadap Beberapa Ketentuan Undang – Undang Dasar 1945, Liberty ,Yogyakarta.

Yamin Muhammad,1971, Naskah Persiapan Undang Undang Dasar 1945, Indonesia, Vol.II dan III, Siguntang, Jakarta.

Kancil, 1980, Pancasila dan UUD 1945, Cek 7 Pradiya Paramita, Jakarta.

Sumber Lain :

http:// www.google.co.id

http://www.goodgovernance-bappenas.go.id/artikel_148.htm

http:// www.teoma.com

http:// www.kumpulblogger.com 

Jumat, 04 Oktober 2013

TUGAS DEFINISI AGAMA



➡ Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan ( kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Sumber : http://id.m.wikipedia.org/wiki/Agama
➡ Agama adalah suatu peraturan yang bertujuan untuk
mencapai kehidupan manusia ke arah dan tujuan tertentu.
Sumber : http://www.iwansulistyo.info/2013/01/pengertian-agama-arti-dan-definisi-agama.html?m=1
Agama adalah suatu sistem yang dipadukan mengenai kepercayaan dan praktik suci.
Agama adalah pegangan atau pedoman untuk mencapai hidup kekal.
Agama adalah konsep hubungan dengan Tuhan.
Agama sebagai seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi lewat mitos dan menggerakkan kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai terjadinya perubahan keadaan pada manusia dan semesta.
Agama adalah tingkat yang paling tinggi dan paling umum dari budaya manusia.
Agama adalah kemampuan organisme manusia untuk mengangkat alam biologisnya melalui pembentukan alam-alam makna yang objektig, memiliki daya ikat moral dan serba meliputi.
Sumber : http://www.pengertianahli.com/2013/09/pengertian-agama-menurut-para-ahli.html
➡ Agama adalah kekuatan dan
kepatuhan yang terkadang biasa diartikan sebagai pembalasan dan perhitungan (amal perbuatan di akhirat). Agama adalah hubungan yang tetap antara diri manusia dengan yang
bukan manusia yang bersifat suci dan supernatur, dan yang bersifat berada dengan sendirinya dan yang mempunyai kekuasaan absolute yang disebut Tuhan. Agama adalah suatu sistem
kepercayaan dan tingkah laku yang berasa dari suatu kekuatan yang ghaib.Sumber : http://ading-aday.blogspot.com/2011/04/definisi-agama-kepercayaan-dan-realigi.html


By : Salahudien D'rawiezZt Arjussyafa'ah

Kamis, 03 Oktober 2013

MAKALAH 1



Makalah Akhlak Tasawuf
Tentang Al-Qusyairi dan Ajaranya





Oleh:
KELOMPOK 2















Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI)
Darussalam Martapura Kalimantan Selatan 2013




DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
BAB II PEMBAHASAN
A.    Sejarah dan Pemikiran Al-Qusyairi
B.     Biografi
C.     Karya-Karyanya
D.    Ajaran-Ajaranya
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA




























BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Segala puji bagi Allah swt yang Maha agung Mahaqodim Maha tahu. Maha bijaksana, Mahapengasih, Maha penyayang. Yang mengajar manusia dengan perantara kalam. Yang mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi tiga;
Pertama, tasawuf yang mengarah pada toeri-teori perilaku;
Kedua, tasawuf yang mengarahkan pada teori teori yang rumit dan memerlukan pemahaman mendalam;
Ketiga, tasawuf yang pendekatannya melalui hati yang bersih (suci)yang dengannya seorang dapat berdiolog secara batini dengan Tuhan sehinggapengetahuan (ma’rifat) dimasukkan Allah kedalam hatinya, hakikat kebenaranpuntersingkap lewat ilham.Tasawuf yang berorientasi kearah pertama sering disebut sebagai tasawuf akhlaki. Adapun tasawuf yang berorientasi kearah yang kedua disebut sebagaitasawuf falsafi dan yang berorientasi kearah yang ketiga disebut sebagai tasawuf irfani.
Dan, yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini adalah yangpertama yaitu tasawuf akhlaki termasuk salah satu tokohnya yaitu Al-Qusyairi.Pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah pendekatan akhlakyang tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli ( menghiasi dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dindingpenghalang (hijab) ) antara manusia dengan Tuhan, sehingga Nur Ilahi tampak jelaspadanya.
Tasawuf akhlaqi yang terus berkembang semenjak zaman klasik Islam hinggazaman modern sekarang sering di gandrungi orang karena penampilan paham atauajaran-ajarannya yang tidak terlalu rumit. Tasawuf seperti ini banyak berkembangdi dunia Islam, terutama di Negara-negara yang dominan bermazhab Syafi’i.













BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sejarah dan Pemikiran Al-Qusyairi
Dalam sejarah perkembangannya, para ahli membagi tasawuf menjadi tiga; pertama, tasawuf yang mengarah pada toeri-teori perilaku; kedua, tasawuf yang mengarahkan pada teori-teori yang rumit dan memerlukan pemahaman mendalam; ketiga, tasawuf yang pendekatannya melalui hati yang bersih (suci) yang dengannya seorang dapat berdiolog secara batini dengan Tuhan sehingga pengetahuan (ma’rifat) dimasukkan Allah kedalam hatinya, hakikat kebenaranpun tersingkap lewat ilham.
            Tasawuf yang berorientasi kearah pertama sering disebut sebagai tasawuf akhlaki. Adapun tasawuf yang berorientasi kearah yang kedua  disebut  sebagai tasawuf falsafi dan yang berorientasi kearah yang ketiga disebut sebagai tasawuf irfani.[1] Dan, yang akan menjadi pembahasan dalam makalah ini adalah yang pertama yaitu tasawuf akhlaki termasuk salah satu tokohnya yaitu Al-Qusyairi.
Pada tasawuf akhlaki pendekatan yang digunakan adalah  pendekatan akhlak yang tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli  ( menghiasi dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dinding penghalang (hijab) ) antara manusia dengan Tuhan, sehingga Nur Ilahi tampak jelas padanya.[2]
Tasawuf akhlaqi yang terus berkembang semenjak zaman klasik Islam hingga zaman modern sekarang sering di gandrungi orang karena penampilan paham atau ajaran-ajarannya yang tidak terlalu rumit. Tasawuf  seperti ini banyak berkembang di dunia Islam, terutama di Negara-negara  yang dominan bermazhab Syafi’i.
Pada mulanya, tasawuf itu ditandai ciri-ciri psikologis dan moral, yaitu pembahasan analisis tentang jiwa manusia dalam menciptakan moral yang sempurna.[3] Adapun ciri-ciri tasawuf akhlaqi antara lain:
1.   Melandaskan diri pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Tasawuf jenis ini, dalam pengamalan ajaran-ajarannya, cenderung memakai landasan Qur’ani dan Hadis sebagai kerangka pendekatannya. Mereka tidak mau menerjunkan pahamnya pada konteks yang berada di luar pemahaman Al-Qur’an dan Hadis yang mereka pahami, kalau pun harus ada penafsiran, panafsiran itu sifatnya hanya hanya sekedarnya dan tidaka begitu mendalam.

2.   Tidak menggunakan terminologi-terminologi filsafat sebagaimana  terdapat pada ungkapan-uangkapan syathatat. Terminology-terminologi di kembagngkan tasawuf Sunni lebih transparan, sehingga tidak kerap bergelut  dengan terma-terma  syathatat. Walaupun ada tema yang mirip syathatat, itu di anggapanya merupakan pengalaman pribadi dan mereka tidak menyebarkannya kepada orag lain. Pengalaman yang ditemukannya itu mereka anggap pula sebagai sebuah karamah atau eajaiban yang mereka temui. Sejalan dengan ini, Ibnu Khaldun sebagaiana dikutip At-Taftazani, memuji para pengikut Al-Qusyairi yang beraliran Sunni, karena dalam aspek ini mereka memang meneladani para sahabat. Pada diri sahabat dan tokoh angkatan salaf telah banyak terjadi kekeramatan seperti itu.

3.   Lebih bersifat mengajarkan dualisme dalam hubungan antara Tuhan dan manusia. Dualisme yang dimaksudkan disini adalah ajaran yang mengakui bahwa  meskipun manusia dapat berhubungan dengan Tuhan, hubungannya tetap dalam kerangka yang berbeda di antara keduanya, dalam hal esensinya. Sedekat apapun manusia dengan Tuhannya tidak lantas membuat manusia dapat menyatu dengan Tuhan.

Al-Qur’an dan Hadis dengan jelas menyebutkan bahwa “inti” makhluk adalah “bentuk lain” dari Allah. Hubungan antara sang pencipta dengan yang diciptakan bukanlah merupakan salah satu persamaan, tetapi “bentuk lain”. Benda yang diciptakan Allaha adalah bentuk lain dari penciptanya. Hal ini tentunya berbeda dengan paham-paham filosofis yang terkenal dengan ungkapan-ungkapan keganjilannya. Kaum sufi Sunni menolak ungkapan-ungkapan ganjil seperti yang disebutkan Abu Yazid al-Busthami dengan teori fana’ da baqa-nya, Al-Hallaj dengan konsep hulul-nya, dan Ibnu Arabi dengan konsep dahwatul wujud-nya.

4.   Kesinambungan antara hakikat dengan syari’at. Dalam penegrtian lebih khusus, keterkaitan antara tasawuf (sebagai aspek batiniahnya) dengan fiqh (aspek lahirnya). Hal ini merupakan konsekuensi dari paham diatas. Karena berbeda dengan Tuhan, manusia  dalam berkomunikasi dengan Tuhan tetap berada pada posisi atau kedudukannya  sebagi objek penerima informasi dari Tuhan. Kaum sufi dari kalangan Sunni tetap memandang penting persoalan-persoalan lahiriah-formal, seperti aturan aturan yang dianut oleh fuqaha. Aturan-aturan itu bahkan sering di anggap sebagai jembatan untuk berhubungan dengan  Tuhan.
5.   Lebih terkonsentrasi pada pembinaan, pendidikan akhlak, dan pengaobatan jiwa dengan cara riyadhah (latihan mental) dan langkah  takhalli, tahalli, dan tajalli.
Tasawuf akhlaki adalah taswuf yang berorientasi pada teori perilaku. Tasawuf seperti ini ada yang menyebutnya sebagai tasawuf yang banyak dikembangkan dalam kaum salaf(salafi). Pada mulanya, taswuf ini bercirikan untuk mengupayakan agar manusia memiliki moral atau akhlak yang sempurna. Pada periode ini, para sufi telah melihat bahwa manusia adalah makhluk jasmani dan rohani karena wujud kepribadiannya bukanlah kualitas-kualitas yang bersifat material belaka, tetapi justru bersifat kualitas-kualitas rohaniyah-spritual yang hidup dan dinamis.[4]
Dalam tasawuf akhlaki ini akan di bahas mengenai salah seorang tokohnya, yaitu Al-Qusyairi. Baik itu sejarahnya maupun perannya dalam dunai tasawuf.  Berikut ini akan di uraikan mengenai hal-hal tersebut.





B.     BIOGRAFI

Nama lengkap al-Qusyairi adalah Abdul Karim ibn Hawazin ibn Abdul Malik ibn Thalhah bin Muhammad, nama kun-yahnya Abul Qasim. Beberapa gelar yang disandang oleh al-Qusyairi yaitu : pertama, An-Naisaburi, sebuah gelar yang dinisbatkan pada nama kota Naisabur atau Syabur, salah satu ibu kota terbesar negara Islam pada abad pertengahan, di samping kota Balkh-Harrat dan Marw. Kedua, al-Qusyairi, nama Qusyairi adalah sebutan marga Sa’ad al-Asyirah al-Qahthaniyah. Mereka adalah sekelompok orang yang tinggal di pesisiran Hadramaut. Ketiga, al-Istiwa, orang-orang yang datang dari bangsa Arab yang memasuki daerah Khurasan dari daerah Ustawa, yaitu sebuah negara besar di wilayah pesisiran Naisabur, yang berhimpitan dengan batas wilayah Nasa. Keempat, Asy-Syafi’i sebuah penisbatan nama pada madzhab Syafi’i yang didirikan oleh al-Imam Muhammad ibn Idris ibn Syafi’i pada tahun 150-204 H/767-820 M. Kelima, al-Qusyairi memiliki gelar kehormatan, antara lain: al-Imam, al-Ustadz, asy-Syaikh, Zainul Islam, al-Jami’ baina Syari’ati wa al-Haqiqah (perhimpunan antara nilai syariat dan hakikat). Gelar-gelar ini diberikan sebagai wujud penghormatan atas kedudukan yang tinggi dalam bidang tasawuf dan ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Al-Qusyairi lahir di Astawa pada bulan Rabi’ul Awal tahun 376 H/986 M. Ia mempunyai garis keturunan dari pihak ibu berporos pada moyang atau marga Sulami, paman dari pihak ibu, Abu Aqil al-Sulami termasuk para pembesar yang menguasai daerah Ustawa. Marga Al-Sulami sendiri dapat ditarik dari salah satu bangsa, yaitu : al-Sulami yang menisbatkan pada Sulaim dan al-Sulami yang dinisbatkan pada bani Salamah. Ia meninggal di Naisabur, Ahad pagi tanggal 16 Rabi’ul Akhir tahun 465 H/1073 M. Ketika beliau berumur 87 tahun. Jenazah beliau disemayamkan di sisi makam gurunya, Syaikh Abu Ali al-Daqaq. Beliau menjadi yatim ketika masih kecil, kemudian diasuh oleh Abul Qasim al-Yamany, sahabat karib keluarga Qusyairi.

Pada masa itu, kondisi pemerintahan tidak berpihak pada kepentingan rakyat. Pada penguasa dan staf-stafnya berlomba-lomba memperberat tingkat pungutan pajak. Hal ini sangat mempengaruhi pertumbuhan jiwa beliau untuk bercita-cita meringankan beban dari masyarakat. Beliau berpikiran pergi ke Naisabur untuk belajar hitung yang berkaitan pajak. Naisabur pada saat itu berposisi sebagai ibu kota Khurasan yang sebelumnya merupakan pusat tempat para ulama dan pengarang serta para pujangga. Sesampainya di Naisabur beliau belajar berbagai ilmu pengetahuan pada seorang guru yang dikenal sebagai Imam yaitu Abu Ali al-Hasan ibn Ali al-Naisabur dan lebih dikenal dengan al-Daqaq. Semenjak pertama kali mendengar fatwanya, beliau sudah mengaguminya. Sementara Syaikh al-Daqaq sendiri juga berfirasat bahwa pemuda ini seorang murid yang cerdas dan brilian. Karena itu, Syaikh al-Daqaq bermaksud mengajari dan menyibukkannya dengan berbagai bidang ilmu. Kenyataan ini membuat beliau mencabut cita-citanya semula, membuang pikiran yang berencana menguasai peran pemerintahan dan memilih thariqah sebagai garis perjuangan.

Beliau menikah dengan Fatimah, putri guru sejatinya (al-Daqaq). Dia seorang wanita berilmu, beradab, dan termasuk ahli zuhud yang diperhitungkan di zamannya. Beliau hidup bersamanya semenjak tahun 405 H/1014 M - 412 H/1021 M dan meninggalkan enam orang putra dan seorang putri. Kesemuanya adalah ahli ibadah. Al-Qusyairi berangkat haji dengan ulama-ulama terkemuka yang sangat dihormati pada waktu itu, di antaranya adalah Syaikh Abu Muhammad Abdullah ibn Yusuf al-Juwainy, salah seorang ulama tafsir, bahasa dan fiqh.

Beliau termasuk orang yang pandai menunggang kuda. Kepiawaiannya telah dibuktikan dalam berbagai lapangan pacuan kuda. Beliau juga seorang yang tangkas memainkan senjata. Permainannya benar-benar sangat mengagumkan. Ia mempunyai seekor kuda pemberian teman akrabnya, dan menggunakannya selama 20 tahun. Ketika beliau meninggal, kudanya ini sangat sedih, selama seminggu kuda tersebut tidak mau makan, sehingga akhirnya kuda tersebut meninggal karena sedih dan lapar.

Selain Abu Ali al-Hasan ibn Ali al-Naisaburi al-Daqaq. Al-Qusyairi pun mempunyai beberapa guru, antara lain: (1). Abu Abdurrahman Muhammad ibn al-Husin ibn Muhammad al-Azdi al-Sulami al-Naisaburi (325 H/936 M – 412 H/1012 M), seorang sejarahwan, ulama sufi sekaligus pengarang. (2). Abu Bakar Muhammad ibn al-Husain ibn Furak al-Anshari al-Ashbahani, meninggal tahun 406 H/1015 M, beliau seorang imam usul fiqh. (3). Abu Ishaq Ibrahim ibn Muhammad ibn Mahran al-Asfarayaini meninggal tahun 418 h/1027 M, seorang cendekiawan bidang fiqh dan usul fiqh yang besar di daerah Isfarayain. Kepadanya beliau belajar Ushuluddin. (4). Abu Manshur aliah Abdur Qahir ibn Muhammad al-Baghdadi al-Tamimi al-Asfarayaini, meninggal tahun 429 H/1037 M, kepadanya beliau belajar madzhab Syafi’i.

Dalam pengajaran, beliau memakai sistem majelis imla’ dan majelis tadzkir. Beliau mengadakan majelis imla’ bidang hadits di Baghdad pada tahun 432 H/1040 M, beberapa paradigma yang dibuatnya dilampiri sejumlah gubahan puisi religius. Kemudian menghentikan kegiatan ini dan pulang ke Naisabur tahun 455 H/1063 M, untuk merintis kegiatan semacamnya.

Beliau sebagaimana dikatakan oleh al-Subkhi adalah seorang ulama yang menguasai bidang ilmu, termasuk bahasa, sastra dan budaya. Karena itu beliau juga disebut seorang sastrawan sekaligus penulis. Ulama penyair ini banyak mengubah syair-syairnya secara improvisasi. Ali al-Bakhilzi banyak menyebut karya-karyanya dalam kitab Damiyatul al-Qashri.







C.     KARYA-KARYANYA

Al-Qusyairi dapat mengarang dalam kitab-kitabnya yang berisi masalah tasawuf dan ilmu-ilmu Islam. Antara lain:
1) Ahkam al-Syar’i
2) Adab al-Shufiyah
3) Al-Arba’un fi al-Hadits
4) Istifadhah al-Muradat
5) Balaghah al-Maqashid fi al-Tasawuf
6) At-Tahbir fi Tadzkir
7) Tartib al-Suluk, fi Thariqillahi Ta’ala
8) Al-Tauhid al-Nabawi
9) At-Taisir fi ‘Ilmi al-Tafsir
10) Al-Jawahir
11) Hayat al-Arwah dan al-Dalil ila Thariq al-Shalah
12) Diwan al-Syi’ri
13) Al-Dzikr wa al-Dzakir
14) Al-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilmi al-Tasawuf
15) Sirat al-Masayikh
16) Syarâh Asma al-Husna
17) Syikuyat Ahl al-Sunnah bi Hikayati ma Nalahun min al-Mihnah
18) Uyun al-Ajwibah fi Ushul al-Asilah
19) Lathaif al-Isyarat
20) Al-Fushul fi al-Ushul
21) Al-Luma’ fi al-I’tiqad
22) Majalis Abi Ali al-Hasan al-Daqaq
23) Al-Mi’raj
24) Al-Munajah
25) Mantsuru al-Khitab fi Syuhub al-Albab
26) Nasikhu al-Hadits wa Mansukhuhu
27) Nahw al-Qulub al-Shaghir
28) Nahw al-Qulub al-Kabir
29) Nukatu Uli al-Nuha







D.    AJARAN-AJARANNYA

Beberapa pandangan yang dikemukakan oleh al-Qusyairi berkaitan dengan tasawuf antara lain adalah: pertama, menolak terhadap para sufi Syatahi, yang mengucapkan ungkapan-ungkapan yang mengesankan terjadinya persatuan antara sifat-sifat ketuhanan dengan sifat-sifat kemanusiaan. Kedua, mengemukakan ketidaksetujuan terhadap para sufi pada masanya yang mempunyai kegemaran untuk mempergunakan pakaian-pakaian orang-orang miskin, tetapi perilakunya bertolak belakang dengan pakaian yang mereka kenakan.

Pendapat al-Qusyairi memberikan gambaran kepada kita bahwa tasawuf pada masanya dianggap telah menyimpang dari perkembangannya yang pertama, baik dari segi akidah, maupun dari segi moral dan tingkah laku. Al-Qusyairi ingin mengembalikan arah tasawuf pada doktrin ahl al-sunnah wa al-jamaah, yaitu dengan mengikuti para sufi Sunni pada abad ketiga dan keempat hijriyah. Usaha yang dilakukannya merupakan pembuka jalan bagi al-Ghazali yang berafiliasi pada aliran yang sama yaitu al-Asy’ariyah.

Al-Qusyairi berpendapat bahwa hal adalah sesuatu yang dirasakan manusia seperti rasa gembira, sedih, lapang, sempit, rindu, gelisah, takut, gemetar dan lain-lain, merupakan suatu pemberian atau karunia, sedangkan maqam diperoleh dari hasil usaha. Hal datang dari yang ada dengan sendirinya, sementara maqam terjadi karena pencurahan perjuangan yang terus menerus. Pemilik maqam memungkinkan menduduki maqamnya secara konstan, sementara pemilik hal sering mengalami naik turun (berubah-ubah).

Fana’ dipakai untuk menunjukkan keguguran sifat tercela, sedangkan baqa’ untuk menandakan sifat-sifat terpuji,

Beberapa maqam yang dikemukakan oleh al-Qusyairi yaitu :

1) Tobat adalah awal tempat pendakian orang-orang yang mendaki dan maqam pertama bagi sufi pemula. Kata tobat menurut bahasa berarti “kembali”, maka tobat artinya kembali dari sesuatu yang di cela dalam syari’at menuju sesuatu yang dipuji dalam syari’at.

2) Wara’ adalah meninggalkan hal-hal yang subhat.

3) Khalwah dan uzlah, khaliyah merupakan sifat ahli sufi, sedangkan uzlah merupakan bagian dari tanda bahwa seseorang bersambung dengan Allah SWT.

Imam al-Qusyairi menjelaskan bahwa ma’rifat menurut bahasa adalah ilmu. Maka setiap ilmu adalah ma’rifat dan setiap ma’rifat adalah ilmu. Setiap orang yang berma’rifat kepada Allah arif (orang bijak yang banyak pengetahuannya). Seorang orang arif adalah alim.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan.
 Nama Imam Al-Qusyairi adalah Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad. Nama panggilan beliau di antaranya adalah : An-Naisabur, Al-Qusyairi, Al-Iatiwai, Asy- Syafi’i , dan lain-lain. Beliau telah menjadi yatim piatu ketika masih kecil. Kemudian beliau dirawat oleh Abul Qasim Al-Alimani seorang sahabat karib keluarga Qusyairi. Di sinilah beliau belajar bahasa dan sastra Arab. Beliau ahli dalam bidang ilmu ushuluddin, fiqih, dan tasawuf.


















DAFTAR PUSTAKA
1. Imam al-Qusyairi an-Naisabury, Risalah al-Qusyairiyah, terj. Mohammad Luqman Hakiem, (Surabaya: Risalah Gusti, 2000), hlm. xiv.
2. Abu al-Wafa al-Ghanami al-Taftazani, Sufi dari Zaman ke Zaman, terj. Ahmad Rofi Ustmani, (Bandung: Pustaka, 1985), hlm. 142.
3. Umar Ismail Asep, dkk., Tasawuf, Pusat Studi Wanita UIN Jakarta, 2005.