Makalah Socrates
Posted on Oktober 18, 2013
by : Salahudien D'rawiezZt Arjussyafa'ah
BAB I
PENDAHULUAN
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran yang umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya kita peroleh dari tulisan murid-muridnya, terutama Plato. Kehidupan Socrates (470-399 SM) berada di tengah-tengah keruntuhan imperium Athena. Tahun terakhir hidupnya sempat menyaksikan keruntuhan demokratis. Di sekitarnya dasar-dasar lama remuk, kekuasaan jahat mengganti keadilan disertai munculnya penguasa-penguasa politik yang menjadi orang-orang yang sombong dibandingkan dengan sebelumnya.
Pemuda-pemuda Athena pada masa ini dipimpin oleh doktrin relativisme dari kaum sofis, sedangkan Socrates adalah seorang penganut moral yang absolut dan menyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan.
BAB II
PEMBAHASAN
FILOSOFI KLASIK
Perubahan jalan pikiran dalam filosofi tidak terjadi sekoyong-konyong ini dibuktikan dengan timbulnya filosofis Yunani. Sofisme terlalu mengemukakan pendirian yang subjektif, relatif, dan skeptis. Oleh karena itu Sofisme tidak mungkin menjadi suatu sistem pengetahuan yang bulat. Sofisme tak lebih dari masa pendahuluan ke zaman klasik. Zaman klasik bermula dengan Socrates.
SOCRATES
Mengenai riwayat Socrates tidak banyak diketahui, akan tetapi sebagai sumber utama keterangan tentang darinya dapat diperoleh dari tulisan Aristophanes, Xenophon, Plato, dan Aristoteles. Karena ia sendiri tidak meninggalkan tulisan, sedangkan keterangan tentang dirinya didapat dari para muridnya. Yang paling banyak menulis tentang Socrates adalah Plato yang berupa dialog-dialog.
Ia anak seorang pemahat Sophroniscos, dan ibunya bernama Phairnarete, yang pekerjaannya seorang bidan. Istrinya bernama Xantipe yang dikenal sebagai seorang yang judes (galak dan keras). Ia dari keluarga yang kaya dengan mendapatkan pendidikan yang baik, kemudian menjadi prajurit Athena. Ia terkenal sebagai prajurit yang gagah berani. Karena ia tidak suka terhadap urusan politik, maka ia lebih senang memusatkan perhatiannya kepada filsafat, yang akhirnya ia dalam keadaan miskin.
Seperti halnya kaum Sofis, Socrates mengarahkan perhatiannya kepadamanusiasebagai objek pemikiran filsafatnya. Berbeda dengan kaum Sofis, yang setiap mengajarkan pengetahuannya selalu memungut bayaran, tetapi Socrates tidak memungut bayaran kepada murid-muridnya. Sehingga ia kemudian oleh kaum Sofis sendiri dituduh memberikan ajaran barunya, merusak moral para pemuda, dan menentang kepercayaan negara. Kemudian ia ditangkap dan akhirnya dihukum mati dengan minum racun pada umur 70 tahun yaitu pada tahun 399 SM. Pembelaan Socrates atas tuduhan tersebut telah ditulis oleh Plato dalam karangannya ‘Apologia’.
Sejak muda Socrates telah terlibat sifat kebijaksanaannya, karena selain ia cerdas juga pada setiap perilakunya dituntun oleh suara batin (daimon) yang selalu membisikkan dan menuntun ke arah keutamaan moral. Cara memberikan pelajaran kepada para muridnya dengan dialog (tanya jawab), yang bertujuan untuk mengupas kebenaran semu yang selalu menyelimuti muridnya. Kebenaran semu tersebut muncul karena ketidaktahuan para muridnya tentang hal-hal tertentu. Dengan cara dialog pengetahuan semu akan terdobrak sehingga mampu keluar dan melahirkan pengetahuan yang sejati.
Peran Socrates dalam mendobrak pengetahuan semu itu meniru pekerjaan ibunya sebagi seorang bidan dalam upaya menolong kelahiran bayi, akan tetapi ia berperan sebagai bidan pengetahuan. Teknik dalam upaya menolong kelahiran (bayi) pengetahuan itu disebut majeutike (kebidanan) yaitu dengan cara mengamat-amati hal-hal yang konkret dan yang beragam coraknya tetapi pada jenis yang sama. Kemudian unsur-unsur yang berbeda dihilangkan sehingga tinggalah unsur yang sama dan bersifat umum, itulah pengetahuan sejati.
Pengetahuan sejati atau pengertian sejati sangat penting dalam mencapai keutamaan moral. Barangsiapa yang mempunyai pengertian sejati berarti memiliki kebajikan (arete) atau keutamaan moral berarti pula memiliki kesempurnaan manusia sebagai manusia.[1]
Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah, di mana keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.
METODE SOCRATES
Socrates tidak pernah menulis. Ia tidak pernah mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilosofi. Bagi dia, filosofi bukan misi, bukan hasil, bukan ajaran yang bersandarkan dogma, melainkan fungsi yang hidup. Filosofinya mencari kebenaran, ia bukan ahli pengetahuan melainkan pemikir.
Ajarannya itu hanya di kenal dari catatan murid-muridnya, terutama Xenephon dan Plato. Untuk mengetahui ajaran Socrates, orang banyak bersandar kepada Plato. Tetapi kesulitannya adalah dalam tulisannya, Plato banyak menuangkan pendapatnya sendiri kedalam ajaran Socrates.
Tujuan Socrates ialah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Socrates berpendapat, bahwa kebenaran itu tetap dan harus dicari. Dalam mencari kebenaran itu ia tidak berpikir sendiri melainkan tanya jawab. Kebenaran harus lahir dari jiwa. Metodenya disebut maieutik, menguraikan, seolah-olah menyerupai pekerjaan ibunya sebagai bidan.
Socrates mencari pengertian, yaitu bentuk yang tetap. Sebab itu ia selalu bertanya : apa itu ? apa yang dikatakan berani, apa yang disebut indah, apa yang bernama adil ?. Tanya jawab, yang dilakukan secara meningkat dan mendalam, melahirkan pikiran yang kritis.
Oleh karena itu Socrates mencari kebenaran yang tetap dengan tanya jawab, maka jalan yang ditempuhnya ialah metode induksidan definisi. Kedua-duanya yaitu bersangkutan. Induksi menjadi dasar definisi.
Induksi yang menjadi metode Socrates ialah memperbandingkan secara kritis. Dengan melalui induksi sampai kepada definisi.Definisi yaitu pembentukan pengertian yang umum. Induksi dan definisi menuju pengetahuan yang berdasarkan pengertian.
ETIKA SOCRATES
Budi ialah tahu, kata Socrates. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Siapa yang mengetahui hukum pasti bertindak dengan pengetahuannya. Oleh karena budi berdasar atas pengetahuan maka budi itu dapat dipelajari. Dari gambaran tersebut terlihat bahwa ajaran etik Socrates bersifat intelektual dan juga rasional. Apabila budi adalah tahu maka tak ada orang yang sengaja berbuat jahat.Kedua-duanya, budi dan tahu bersangkut-paut. “Jahat” hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau penglihatan yang benar.
Oleh karna budi adalah tahu, maka siapa yang mengetahui kebaikan pastilah dia berbuat baik. Menuju kebaikan adalah jalan yang sebaik-baiknya untuk mencapai kesenangan hidup. Apa itu ‘kesenangan hidup’ ? hal ini tidak pernah dipersoalkan oleh Socrates sehingga murid-muridnya kemudian memberikan pendapatnya sendiri-sendiri yang bertentangan satu sama lain.
Menurut Socrates, manusia itu pada dasarnya baik. Keadaan dan tujuan manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya. Dari pandangan etik yang rasional itu Socrates sampai pada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Menurut keyakinannya didzalimi lebih baik dari pada mendzalimi. Socrates adalah orang yang mempercayai tuhan.
MURID-MURID SOCRATES
Diantara murid-murid Socrates ada tiga orang yang mengaku meneruskan pelajarannya, yaitu Euklides, Antisthenes dan Aristippos.
EUKLIDES mengajarkan filosofinya di kota Megara. Sebelum ia belajar pada Socrates, ia telah mempelajari filosofi Elea, terutama ajaran Permenindes yang mengatakan bahwa yang ada itu ada, satu, tidak berubah-ubah. Pendapat ini disatukan dengan etika Socrates. Lalu diajarkannya: Yang satu itu baik. Hanya orang sering menyebut yang satu itu dengan berbagai anggapan: Tuhan, akal, dan lainnya. Lawan satu itu tiada.Yang baik selalu ada, tidak berubah.
ANTISTHENES mula-mula murid guru sofis Gorgias. Kemudian ia menjadi pengikut Socrates. Setelah Socrates meninggal, ia membuka sekolah filosofi di Atena dan diberi nama Gymnasium Kynosarges. Menurut ajaran Antisthenes, budi adalah satu-satunya yang baik. Budi adalah segala rasa cukup. Di luar itu tidak perlu mencari kesenangan hidup.
Dalam dua halia menyimpang dari Socrates. Pertama, ia memungut biaya sekolah. Bagi Socrates, ia pantang menerima bayaran. Kedua, tentang pengertian. Bagi Antisthenes, pengertian itu tidak ada. Yang adahanya kata-kata, masing-masing mempunyai arti sendiri. Kata yang satu tak dapat menentukan kata yang lain.
ARISTIPPOS magajarkan filosofinya di Kyrena.Mula-mula ia belajar pada guru sofis dan kemudian menjadi murid Socrates. Dalam ajarannya ia jauh menyimpang dari Socrates. Menurut pendapatnya, kesenangan hidup harus menjadi tujuan. Sebab itulah, ajarannya disebut hedonisme. Hanya kesenangan hidup harus dicapai dengan pertimbangan yang tepat, tidak serampangan.
Euklides, Antisthenes dan Aristippos, masing-masing mendirikan sekolah Socrates sebagai tanda cinta kepada gurunya. Namun mereka bukanlah murid Socrates yang sepenuhnya.Murid Socrates yang sesungguhnya adalah Plato.
Dibandingkan dengan gurunya, Socrates, Plato telah maju selangkah dalam pemikirannya. Socrates baru sampai pada pemikiran tentang sesuatu yang umum dan merupakan hakikat suatu realitas, tetapi Plato telah mengembangkannya dengan pemikiran bahwa hakikat suatu realitas itu bukan “yang umum”, tetapi yang mempunyai kenyataan yang terpisah dari sesuatu yang berada secara kongkret, yaitu ide. Dunia ide inilah yang hanya dapat dipikirkandan diketahui oleh akal.
BAB III
KESIMPULAN
Ajaran Socrates merupakan tulisan yang ditulis oleh Plato. Perjuangannya telah menumbuhkan seorang filosof-filosof yang mampu berpikir kritis dan melanjutkan perjalanan Socrates.
Dan karna fikiran kritis itulah, tumbuh pemikiran yang benar dan rasional.Socrates dengan pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan, yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah, di mana keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan.
PENUTUP
Demikian makalah dari kami yang dapat kami uraikan, kurang lebihnya kami mohon maaf. Bila ada kritik dan saran mari kita diskusikan bersama.
Referensi :
1) Prof. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, (Bandung:Rosdakarya,2009)
2) Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, (Jakarta:Rajawali Press)
3) Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, UIP
[1] HarunHadiwijono, Sari SejarahFilsafat Barat I, Kanisus, Yogyakarta, hlm.
Fotenoot : http://hwraocha.wordpress.com/2013/01/01/makalah-socrates/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar