by : Salahudien D'rawiezZt Arjussyafa'ah
SokratesA. Biografi
Socrates dilahirkan pada tahun 469 SM ia merupakan filsuf pertama yang terlahir di Athena, yunani. Dia adalah anak dari pasangan suami istri, Sophroniscus dan Phaenarete. Ayahnya berprofesi sebagai pemahat dan ibunya berprofesi sebagai bidan. Pada permulaanya sokrates menggeluti jejak bapaknya menjadi seorang pembuat patung. Tetapi akhirnya ia berganti haluan dari membentuk batu jadi patung menjadi membentuk watak manusia.[1]
Orang grik pada umumnya bagus, badanya ramping dan tegap, raut mukanya elok. Tetapi sokrates kebalikan dari itu, potongan badanya pendek, sedikit gemuk, mulutnya lebar hidungnya botok dan matanya terbudur, tapi dibalik itu Socrates mempunyai kepribadian yang sabar, rendah hati, yang selalu menyatakan dirinya bodoh.[2]
Sokrates hidup bersamaan dengan zamanya kaum sofis, Karena itu pokok pembahasan filsafat Socrates hampir sama dengan pokok pembahasan kaum sofis sehingga , sehingga di dalam komedi “awan” Aristophanes menyebut Sokrates sebagai seorang sofis. Tetapi itu tidak benar Karna sebenarnya terdapat perbedaan yang sangat besar antara Sokrates dengan kaum sofis, Filsafat Sokrates adalah suatu reaksi dan kritik terhadap pemikiran kaum sofis. Di dalam kesusastraan yunani kata “sofis” mempunyai dua arti. Kata ini dapat berarti “ahli”, dan dalam sering dipakai oleh Plato, untuk menunujukan sesuatu yang sangat baik. Tatapi disamping itu tersebar pula pemakaian kata ini dalam arti yang khusus yaitu seorang “ guru bayaran” , dan dalam makna ini kata tersebut terdengar tidak baik. Berlawanan dengan para pemikir yang lebih tua, kaum sofis meminta upah bagi pelajaran yang mereka berikan, dan di mata orang-orang yunani yang demikian ini dinilai rendah. Di samping itu pelajaran yang mereka berikan harus membawa hasil. Sehingga sofistika beralih menjadi retorika yang tidak mengutamakan masalah kebenaran, melainkan mementingkan masalah cara mempengaruhi orang lain.[3]
Socrates percaya akan gagasan mengenai gaya tunggal dan transenden yang ada di balik pergerakan alam ini. Dengan demikian, Socrates memiliki pandangan yang bertentangan dengan kepercayaan umum masyarakat Yunani saat itu, yaitu kepercayaan pada kuil (oracle) dari dewa-dewa.
Dan akhirnya pada tahun 399 SM Socrates dinyatakan bersalah atas tuduhan tidak percaya dengan dewa-dewa dan telah merusak moral para pemuda yunani, oleh pengadilan ia ditawarkan untuk bunuh diri dengan meminum racun. Penawaran tersebut diterimanya dengan tenang, meskipun para muridnya telah berulangkali membujuknya untuk melarikan diri. Menurut Phaedo, Socrates meninggal dengan tenang dengan dikelilingi oleh kawan-kawan dan siswanya. Pada saat itu sokrates berusia 70 tahun.
B. Jalan pemikiran Sokrates
Ajaran bahwa semua kebenaran itu relatif telah menggoyahkan teori – teori sains yang telah mapan, mengguncangkan keyakinan agama. Ini menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Inilah sebabnya Socrates harus bangkit. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu relatif, ada kebenaran umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagaian kebenaran memang relatif, tetapi tidak semuanya.
Bartens menjelaskan ajaran Socrates sebagai berikut ini. Ajaran itu dutujukan untuk menentang ajaran relativisme sofis. Ia ingin menegakkan sains dan agama. Kalau dipandang sepintas lalu, Socrates tidaklah banyak berbeda dengan orang – orang sofis. Sama dengan orang sofis, Socrates memulai filsafatnya dengan bertolak dari pengalaman sehari – hari. Akan tetapi, ada perbedaan yang amat penting antara orang sofis dan Socrates. Socrates tidak menyetujui kaum sofis.[4]
Menurut pendapat Socrates ada kebenaran obyektif, yang tidak bergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat permasalahan yang dihadapi oleh Socrates. Untuk membuktikan adanya kebenaran obyektif, Socrates menggunakan metode tertentu.
C. Metode sokrates
Sokrates tidak pernah menuliskan filosofisnya. Jika dititik benar-benar, ia malahan tidak mengajarkan filosofi, melainkan hidup berfilsafat. Filosofinya mencari kebenaran. Oleh karena ia memberi kebenaran, ia tidak mengajarkan. Ia bukan ahli pengetahuan, melainkan pemikir[5]
Tujuan filsafat sokrates adalah mencari kebenaran yang berlaku untuk selama-lamanya. Tentu berlainan pendapatnya dengan para kaum sofis yang mengajarkan bahwa semua relatif dan harus dihadapi dengan pendirian yang skeptis. Dalam mencari kebenaran sokrates tidak memikir sendiri, melainkan setiap berdua dengan orang lain, dengan jalan tanya jawab. Kebenaran harus lahir dari lawan bicaranya itu sendiri. Ia tidak mengajarkan, melainkan menolong mengeluarkan apa yang tersimpan di dalam jiwa seseorang oleh sebab itu metodenya disebut dengan metode dialektika.[6]
Ia mengajukan pertanyaan kepada orang-orang dari berbagai kalangan, seperti ahli politik, pejabat pemerintah, pedagang, tukang dan lain-lain. Jawaban mereka yang pertama atas pertanyaan yang diajukan, oleh sokrates dianggap sebagai hipotesis. Kemudian ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk menguji dan menganalisis hipotesis pertama. Kemudian mengajukan pertanyaan lebih lanjut untuk menarik segala konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban pertama tersebut. Jika ternyata hipotesis pertama tidak dapat dipertahankan, karna membawa konsekuensi-konsekuensi yang mustahil, maka hipotesis diganti itu diganti dengan hipotesis yang lain. Hipotesis yang kedua ini lalu diuji dan dianalisis dengan pertanyaan-pertanyaan berikutnya, demikian seterusnya.[7]
Bagi kita yang sudah biasa membentuk dan menggunakan definisi barang kali merasakan definisi itu bukan sesuatu yang amat penting, jadi bukan suatu penenmuan yang berharga. Akan tetapi, bagi Socrates pada waktu itu penemuan definisi bukanlah hal yang kecil maknanya, penemuan inilah yang akan dihantamkannya kepada relatifisme kaum sofis.
Orang sofis beranggapan bahwa semua pengetahuan adalah relatif kebenarannya, tidak ada pengetahuan yang bersifat umum. Dengan definisi itu Socrates dapat membuktikan kepada orang sofis bahwa pengatahuan yang umum ada, yaitu definisi itu. Jadi, orang sofis tidak seluruhnya benar, yang benar ialah sebagian pengetahuan bersifat umum dan sebagian bersifat khusus, yang khusus itulah pengetahuan yang kebenaranya relatif. Misalnya contoh ini :
Apakah kursi itu ? kita periksa seluruh, kalau bisa seluruh kursi yang ada didunia ini. Kita menemukan kursi hakim ada tempat duduk dan sandaran, kakinya empat, dari bahan jati. Lihat kursi malas, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya dua, dari besi anti karat begitulah seterusnya. Jadi kita ambil kesimpulan bahwa setiap kursi itu selalu ada tempat duduk dan sandaran. Kedua ciri ini terdapat pada semua kursi. Sedangkan cirri yang lain tidak dimilki semua kursi. Maka, semua orang akan sepakat bahwa kursi adalah tempat duduk yang bersandaran. Berarti ini merupakan kebenaran obyektif – umum, tidak subyektif – relative. Tentang jumlah kaki, bahan, dsb. Merupakan kebenaran yang relatif. Jadi, memang ada pengetahuan yang umum, itulah definisi.[8]
D. Etik Sokrates
Budi adalah tahu, kata sokrates. Inilah inti sari daripada etiknya. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik, paham etiknya itu berlanjut daripada metode-metodenya, induksi dan definisi menuju kepada pengetahuan yang berdasarkan pengertian. Oleh karena budi berdasarkan atas pengetahuan, maka budi itu dapat dipelajari.[9]
Dari ucapan itu nyatalah, bahwa ajaran etik Sokrates intelektuil sifatnya. Selain dari itu juga rasionil. Apabila budi adalah tahu, maka tak ada orang yang sengaja berbuat jahat atas maunya sendiri. Kedua-duanya, budi dan tahu bersangkut-paut. Apabila budi tahu, berdasarkan timbangan yang benar, maka “jahat” hanya datang dari orang yang tidak mengetahui, orang yang tidak mempunyai pertimbangan atau pengelihatan yang benar, orang yang kesasar adalah korban daripada kekhilafannya sendiri. Kesasar bukanlah perbuatan yang di sengaja. Tidak ada orang yang khilaf atas maunya sendiri.
Menurut sokrates, semua manusia itu pada dasarnya baik. Seperti dengan segala barang yang ada itu ada tujuanya, begitu juga hidup manusia. Misalnya apa tujuan meja? Kekuatanya, kebaikanya. Begitu juga dengan manusia. Keadaan dan tujuanya manusia ialah kebaikan sifatnya dan kebaikan budinya[10]
Dari pandangan etik yang rasionil itu sokrates sampai kepada sikap hidup yang penuh dengan rasa keagamaan. Sokrates adalah orang yang percaya kepada Tuhan, sering juga dikemukakannya bahwa tuhan itu dirasai sebagai suara dari dalam yang menjadi bimbingan baginya dalam segala perbuatanya itulah yang disebutnya daimonion.
E. Murid-murid sokrates
Diantara murid-murid Sokrates ada tiga yang mengaku meneruskan pelajaranya yaitu, Euklides, Antisthenes dan Aristhoppos.
1. Euklides
Ia mengajarkan filosofinya di kota megara. Sebelum ia belajar filsafat kepada Sokrates ia telah mempelajari filosofi Elea, Terutama ajaran Permenides yang mengatakan, bahwa yang ada itu ada, satu, tidak berubah-ubah.
2. Antisthenes
Tampaknya dalam usia lanjut Antisthenes menjadi murid Sokrates. Setelah Sokrates meninggal, Antisthenes mengajar di gymnasium kunosarges di Athena.
3. Aristhoppos
Aristhoppos mengajarkan filosofinya di kyrena, mula-mula ia belajar filosofi pada guru sofis dan kumudian menjadi murid Sokrates. Namun dalam ajaranya ia sangat menyimpang dengan Sokrates.
Sungguh Euklides, Antisthenes dan Aristippos masing-masing mendirikan sekolah Sokrates sebagai tanda cintanya kepada gurunya. Namun mereka bukanlah pengikut Sokrates yang sepenuh-penuhnya. Murid Sokrates yang sesungguhnya ialah Plato.[11]
Refrensi :
[1] Soemargono soejono, Sejarah ringkas filsafat barat Tiara wacana Yogyakarta 1992. hal.14
[2] Hatta mohammad, alam pikiran yunani Tintamas Jakarta 1986. hal.73
[3] Soemargono soejono, op.cit., hal. 1
[4] Fufu, makalah filsafat sokrates dkk, 22-06-2011. Hal.2
[5] Hatta mohammad, alam pikiran yunani Tintamas Jakarta 1986. hal.80
[6] Ibid. Hal.80
[7] Brouwer, Heryadi, sejarah filsafat barat modern dan sezaman Alumni Bandung 1986. hal.23
[8] Fufu, makalah filsafat sokrates dkk, 22-06-2011. Hal.3
[9] Hatta mohammad, alam pikiran yunani Tintamas Jakarta 1986. hal.83
[10] Ibid. Hal.83
[11] Hatta mohammad, alam pikiran yunani Tintamas Jakarta 1986. hal.84
Tidak ada komentar:
Posting Komentar